Laman

Kamis, 19 Januari 2012

Anak Perfeksionis VS Anak Pengalah

Seorang Mommy curhat di Milis. Anak Mommy yang berumur enam tahun dan sekarang kelas 1 SD sepertinya perfeksionis. Menurut mommy, ia cukup menguasai pelajaran terutama Matematika & Sains, tetapi begitu pelajaran tak disukai dan belum dikuasai, ia akan kesal sendiri.

Bila sedang bermain bola, atau bermain monopoli bersama adiknya, maunya menang sendiri.. Bila sudah ada tanda-tanda akan kalah, mulailah menunjukkan kekesalannya dan mengambek. Akhirnya ia lebih suka main monopoli sendiri, supaya bisa menguasai semua uang monopoli.

Mommy menyadari, hal ini timbul karena pada awalnya mommy selalu menomor satukan anak mommy karena mempunyai adik hanya berjarak setahun, agar tak merasa dikesampingkan. Akhirnya malah anak nomor dua yang menjadi selalu mengalah. Masalahnya bagi mommy, sekarang anak nomor satu jadi selalu mau menang sendiri dan selalu ingin dinomor satukan selalu. Bila tidak kesampaian akan mangajuk dan menimbulkan masalah.

Mommy menanyakan sharing pengalaman dan pendapat dari Mommies lain yang mempunyai pengalaman serupa dalam menangani masalah ini. Muncul tanggapan dari Mommy yang mempunyai anak berusia tujuh tahun. Mommy menyatakan bahwa yang dialami persis sama seperti mommy yang menanyakan. Kebetulan anak mommy juga mempunyai kecenderungan hiperaktif menurut hasil test psikiater. Anak mommy juga tidak mau mengalah saat bermain, tidak dapat menerima kekalahan dirinya saat kemenangan orang lain.

Bila saat bermain ada tanda-tanda akan kalah langsung minta berhenti, atau menangis. Anak merasa harus memenangkan semua permainan. Hingga saat mendapat pembagian kuepun minta di nomor satukan, anak lain tidak boleh sama dengan yang diperolehnya. Mommy cukup kelabakan juga dalam menangani anak ini. Sama dengan mommy yang menanyakan, mommy ini mempunyai anak lagi dan kembar, hanya berjarak satu tahun dari kelahiran anak sebelumnya. Mommy berfikir mungkinkah ini terjadi karena anak merasa kurang diperhatikan?

Padahal mommy merasa telah berusaha untuk cukup dan adil dalam memberikan perhatian kepada ketiga anaknya. Sehingga menurutnya salah satu cara orang tua tetap harus konsekuen , meskipun anak menangis karena kalah, tetap ia harus menjalaninya. Bila tidak, kasihan adik-adiknya yang sudah sangat pengertian dan amat mengalah. Mommy yang lain yang persis mengalami hal yang serupa, menyadari mungkinkah karena tenggang jarak kelahiran yang sangat dekat, sehingga anak merasakan haus kasih sayang dan perhatian sejak usia sangat dini.

Mommy ini berusaha menerapkan cara dengan memberi peringatan pada anak-anak di setiap awal bahwa kalah dan menang adalah wajar dalam suatu permainan. Agar anakanak tidak merasakan sebuah permainan sebagai suatu kompetisi melainkan sebagai suatu hal yang menyenangkan. Mommy yang menanyakan menyadari bahwa kemungkinan anaknya memang merasakan kompetisi dengan adanya adiknya yang tak beda jauh umurnya dengannya. Fisik sang adik yang sudah lebih besar dari dirinya, bisa jadi dirasakannya sebagai suatu ancaman dan kompetisi dari sang adik, sehingga sang kakak menanggapi secara tak sadar bahwa dirinya harus menang dalam segala hal lain di luar hal tersebut.

Dari diskusi ini ada beberapa point menarik yang bisa diambil:

1. Pada hubungan antara saudara sekandung dengan jarak kelahiran yang sangat dekat, ada kemungkinan timbullnya perasaan kompetisi pada salah satu saudara, yang berakibat pada keinginan untuk lebih dinomorsatukan dan diperhatikan oleh orang tua.

2. Perlu kesadaran orang tua, bahwa tingkah laku salah satu anak yang ingin menang sendiri kemungkinan timbul karena perasaan sensitif anak yang merasa terancam dengan kehadiran saudaranya yang berbeda umur sedikit sekali dengannya.

3. Jangan menomorsatukan siapapun, dan berusahalah bersikap adil dan fair kepada semua anak.

4. Membiasakan mengenalkan anak kepada sifat sportif di dalam permainan apapun.

5. Mengenalkan makna menang dan kalah di dalam permainan secara tak berlebihan.

6. Pada anak yang sudah terlanjur mau menang sendiri atau terlalu pengalah, orang tualah yang seyogyanya merubah pola yang berlaku sekarang. Intervensi diperlukan dengan mengubah pola pikir orang tua untuk benar-benar menyamaratakan anak-anak, apapun kondisi fisik dan mental mereka. Kemudian diperlukan komunikasi dan ketegasan orang tua di dalam menghadapi anak yang terlanjur mau mennag sendiri. Mulailah dengan bermain bersama mereka dalam permainan yang tak berkompetisi dan semua akan mendapatkan giliran. Beri kesempatan untuk memimpin kepada anak yang pengalah, dan beri lebih banyak giliran untuk menjadi anak buah kepada anak yang mau menang sendiri.

7. Orang tua dapat menggali kreatifitas dalam menangani kedua tipe anak tersebut secara bersamaan, dengan mencoba menekan rasa self-sentris anak perfeksionis dan menimbulkan rasa keberanian dan egosentris anak yang terlalu pengalah. Usahakan perubahan dilakukan secara bertahap dan tanpa disadari oleh anak-anak, hingga akhirnya bila anak pengalah menang atau memimpin akan dianggap sebagai suatu kewajaran oleh anak perfeksionis.

sumber: http://wrm-indonesia.org/content/view/1115/58/